NEWS



OBYEK WISATA MUSEUM DI JOGJAKARTA

2008-12-30 11:22:47

WISATA DI JOGJA ?

 

Jika anda ingin berwisata di Jogja anda dapat memilih obyek wisata yang anda sukai. Yunika T & T mencoba memahami keinginan konsument, kami akan membantu membuat program wisata anda sesuai keinginan anda ( obyek, bugjet, dan lama kunjungan ) , tentu saja kami tetap berkomitment menyajikan pelayanan dan service yang terbaik ?  Kirimkan email anda ke kami atau via ym online kami . Tempat / obyek wisata di Jogja dapat di lihat di data tempat wisata kami.

 

MUSEUM

 

MUSEUM SONOBUDOYO

Alamat : alun-alun utara

Deskripsi :

JAVA Institut merupakan embrio dari keberadaan Museum Negeri Sonobudoyo. Yakni, sebuah organisasi yang mendalami tentang kebudayaan Jawa dimana anggotanya terdiri dari orang-orang kulit putih dan Indonesia. Ir Th Karsten merupakan arsitek yang membuat perencanaan bangunan. Setelah terkumpul beberapa koleksi benda-benda budaya dari wilayah Jawa, Madura, Bali dan Lombok, akhirnya pada tgl 6 November 1935, Museum Sonobudoyo diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, yang menempati bekas kantor Schauten di sisi utara Alun-alun Utara Kraton Jogja.

Sampai saat ini, Museum Sonobudoyo memiliki 42.698 koleksi yang terdiri dari 10 kategori, yakni koleksi geologika, biologi, etnografi, arkeologika, historika, numismatika, filologika, keramologi, seni rupa dan teknologika. Selain ruang pamer sebagai tempat memajang benda-benda koleksi, Museum Sonobudoyo juga dilengkapi dengan auditorium, storage koleksi, perpustakaan, laboratorum, preparasi, kantor dan fasilitas umum.

Manapakkan kaki memasuki pendapa museum, yang merupakan bangunan tertua di kompleks museum, akan dijumpai 3 perangkat gamelan. Seperangkat gamelan kuno Kyai Mega Mendhung dari Kraton Kasepuhan Cirebon menempati sisi barat, sedang 2 perangkat gamelan slendro pelog Kyai dan Nyai Riris Manis (dibuat pada masa Sri Sultan HB VI, -Red) yang bergya mataram berada di sisi timur.

Dari pendapa melewati pringgitan sampailah di ruang dalam yang berfungsi sebagai ruang pengenalan, dimana terdapat sebuah pasren atau krobongan berikut kelengkapannya, sebagai perangkat untuk upacara pemujaan Dewi Sri atau Dewi Padi yang telah memberikan kemakmuran.

Di ruang pengenalan ini terdapat koleksi Wayang Kulit Purwa, koleksi ukir kayu motif Cirebon, Genta besar dari Candi Kalasan, miniature Kereta Kuda, koleksi topeng kayu gaya Jogja, kain batik gaya Jogja dan kain kampuh. Ruang Pengenalan ini berfungsi untuk memperkenalkan berbagai jenis koleksi, sebelum mencermati koleksi-koleksi yang di pajang di ruang pamer berikutnya.

Meninggalkan Ruang Pengenalan, selanjutnya menuju Ruang Pra Sejarah yang menyajikan benda-benda peninggalan jaman pra sejarah yang menggambarkan cara hidup seperti berburu, mengumpulkan dan meramu makanan, cocok tanam dan aktivitas ritual manusia purba.

Ruang Klasik dan Peninggalan Islam adalah ruang pamer berikutnya. Di ruang ini terdapat koleksi bersejarah peninggalan jaman Hindu-Budha sampai ke masa kerajaan Islam, yang menggambarkan system kemsyarakatan, bahasa, religi, kesenian, ilmu pengetahuan, peralatan hidup dan system mata pencaharian.

Meninggalkan Ruang Klasik dan Peninggalan Islam menuju ke Ruang Batik. Melihat koleksi yang dipamerkan di Ruang Batik, dapat dlihat bagaimana cara pembuatan, bahan, peralatan serta beragam fungsi batik yang dilengkapi dengan dokumentasi foto.

Setelah Ruang Batik, koleksi selanjutnya dapat dilihat di Ruang Wayang. Di ruang ini dapat diketahui beragam misi pertunjukan wayang yang tidak melulu memainkan lakon Mahabarata dan Ramayana. Wayang dengan menyesuaikan situsi dan kondisi mampu dikemas dengan mengangkat lakon-lakon yang lebih akrab dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat pendukungnya, atau dengan penampilan misi-misi tertentu.

Ruang Topeng menjadi tempat memajang koleksi berikutnya. Di ruangan ini, dengan melihat koleksi topeng yang ada dapat ditelusuri perkembangannya yang diringi oleh perkembangan nilai-nilai budaya yang melingkupinya baik sebagai perangkat upacara, pertunjukan atau hanya seni rupa semata.

Ruang Jawa Tengah dipenuhi dengan koleksi berupa hasil kerajinan kayu, perak dan logam serta berbagai sarana perlengkapan upacara daur hidup secara lengkap sebagai bagian dari tradisi masyarakat Jawa Tengah.

Selepas Ruang Jawa Tengah adalah Ruang Bali yang terbagi dalam 3 ruang. Sebagaimana cirri khas kehidupan masyarakat Bali, diruang ini penuh dengan koleksi yang bermakna keagaam dan tradisi kemasyarakatan. Seperti perangkat upacara serta tradisi-tradisi yang melingkupinya seperti rumah adat, penari keris dan sabung ayam.

Yang tak kalah menarik dari koleksi peninggalan sejarah yang dimiliki Museum Sonobudoyo adalah koleksi emas yang terpampang dengan megahnya di Ruang Emas. Keaneka ragaman bentuk dan jumlah koleksinya menjadi daya tarik tersendiri. Koleksi yang dipajang tak hanya emas sebagai perhiasan, seperti gelang, cincin, kalung dan sebagainya, tetapi juga terdapat beberapa patung dewa-dewi, topeng, senjata, mata uang sampai yang masih berupa lempengan.

Melihat koleksi Museum Sonobudoyo, ingatan akan tergiring kembali ke masa lalu yang kaya dengan tradisi kehidupan. Tradisi hubungan antar masyarakat, kerajaan dan hubungan dengan para dewa-dewi yang diyakini telah memberikan kehidupan.

 

WAYANG KEKAYON

Alamat : Jl Yogya Wonosari km 7 no. 277,Bantul, Yogyakarta

Deskripsi :

Inspirasi pendirian Museum Kekayon didapatkan oleh pendiri museum, Prof.DR.Dr. KRT Soejono Prawirohadikusumo, DAS. DAJ., di Rijksmuseum Amsterdam pada tahun 1966 – 1967 (ketika itu beliau sedang menyelesaikan pendidikan S2 Social Psychiatrie di Groningen Nederland. Waktu itu beliau mendapat dorongan yang sangat besar karena pernyataan salah seorang Direktur museum di Amsterdam, bahwa adalah ‘zonde’ bila di Yogyakarta tidak ada Museum Wayang. Beliau juga mendapatkan pengetahuan bahwa mendirikan museum pribadi bukan persoalan kaya atau berduit, tapi persoalan motivasi, ketekunan dan kesabaran. Contoh yang konkret adalah keberhasilan ‘Een gewone Hollandsche ambtenaar’ di Purworejo yang dengan ketekunan luar biasa, bisa mempunyai koleksi yang sangat besar dan berharga (yang pada akhirnya dihadiahkan kepada Museum Nasional Indonesia di Jakarta), setelah puluhan tahun mengumpulkan koleksi tersebut dari sisa salari-nya (dia bukan seorang milyuner). Yang membuat dia berhasil adalah ketekunan, kesabaran, motivasi dan panjangnya tahun (selama ini bagi dia, tidak ada hari tanpa menambah koleksi). Dalam ilmu kedokteran jiwa, dalam menghadapi perjalanan hidupnya, manusia memerlukan suatu kadar obsesi tertentu yang optimal (disebut obsesi normal) supaya dapat mencapai cita”nya. Disamping itu kuriositas dan haus akan pengetahuan akan melengkapi kesenangan terhadap sesuatu obyek. Wayang merupakan warisan nenek moyang yang sarat akan falsafah hidup Jawa, etika dan estetika yang tidak akan lapuk dalam derasnya banjir kebudayaan asing. Sejak abad ke-11 sampai sekarang, dikenal tidak kurang dari 20 macam wayang sesuai era-era sejarah. Wayang memang bukan sesuatu yang statis, tetapi dinamis, tumbuh sesuai dengan jamannya. Bila warisan tsb tidak dilestarikan, adalah suatu ‘zonde’. Inilah salah satu alas an pendirian Museum Wayang Kekayon. Selain itu, menurut ilmu kesehatan jiwa, pendidikan anak harus mendapatkan alokasi yang seimbang antara unsur modernisasi dan transmisi kebudayaan nenek moyang. Bila anak hanya mendapatkan pendidikan modern saja (intelektualisme dengan teknologinya dan kaidah” modernisme) maka anak akan menjadi anak yang modern tetapi kurang ‘unggah-ungguh’. Bila anak hanya mendapat transmisi kebudayaan nenek moyang saja, anak akan menjadi konservatif (kuno). Sebaliknya bila anak mendapat alokasi yang seimbang antara kebudayaan nenek moyang dan kebudayaan modern, maka anak akan menjadi anak yang fleksibel (ajur-ajer) dan tidak menjadi orang yang dalam Serat Wedhatama disebut sebagai ‘gonyak-ganyuk nglelingsemi’. Menurut ilmu kesehatan jiwa, manusia dikatakan mature (dewasa) bila sebelum dia meninggal telah mentransformasikan seluruh atau sebagian besar ilmu pengetahuannya, keahliannya, dan lain-lain kelebihannya kepada generasi penerus

 

MUSEUM BIOLOGI

Alamat : jl. Sultan Agung 22 Yogyakarta

Deskripsi :

Terletak di Jalan Sultan Agung no.22 Yogyakarta, Museum ini berdiri sejak tahun 1964, sebagai museum khusus milik Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Berisi berbagai macam koleksi herbarium basah dan kering berbagai jenis binatang dan kerangkanya, aquarium, dan buku-buku bidang biologi. Sebagain diantaranya diperagakan dalam bentuk diorama, yang memperlihatkan kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan tersebut, menyerupai keadaan di alam aslinya. Selain itu, tempat ini merupakan sarana pendidikan tentang satwa (fauna) dalam alam tumbuhan (flora) Indonesia. . Museum ini buka setiap hari: Selasa s/d Kamis: Pukul 08.00-13.30 WIB, Jumat : Pukul 08.00-11.00 WIB, Sabtu : Pukul 08.00-12.30 WIB, Minggu : Pukul 08.00-12.00 WIB

 

MUSEUM JOGJA KEMBALI

Alamat : Jl.Ringroad Utara, Jongkang, Sariharjo,

Deskripsi :

Untuk mengenang peristiwa sejarah perjuangan bangsa, pada tanggal 29 Juni 1985 dibangun Monumen Yogya Kembali (Monjali). Peletakkan batu pertama monumen setinggi 31,8 meter dilakukan oleh HB IX setelah melakukan upacara tradisional penanaman kepala kerbau. Empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1989,

bangunan ini selesai dibangun. Pembukaannya diresmikan oleh Presiden Suharto dengan penandatanganan Prasasti.

Monumen yang terletak di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman ini berbentuk gunung, yang menjadi perlambang kesuburan juga mempunyai makna melestarikan budaya nenek moyang pra sejarah. Peletakan bangunanpun mengikuti budaya Jogja, terletak pada sumbu imajiner yang menghubungkan Merapi, Tugu, Kraton, Panggung Krapyak dan Parang Tritis.

Museum sekaligus monumen ini terletak dijalan Lingkar Utara, IN gaglik, Sleman. Museum ini dikelola oleh Yayasan Para Pejuang tahun 1945-1950. Monumen ini menampilkan rekaman, foto-foto dokumentasi peristiwa perjuangan, berbagai jenis senjata dan benda-benda lainnya (diorama) yang menggambarkan proses perjuangan Bangsa Indonesia kurun waktu 1945-1950. Juga berisi 40 relief dan 10 diorama yang merupakan penggambaran adegan perjuangan bangsa Indonesia baik di bidang diplomasi maupun fisik. selain itu sebagai salah satu peringatan serangan umum 1 maret, berfungsinya kembali Pemerintahan Republik Indonesia dan sebagai tetengger sejarah ditarik mundurnya tentara Belanda dari Ibukota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan petinggi lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.

 

MUSEUM NYOMAN GUNARSA

Alamat : Jl. Wulung 43, Papringan, Caturtunggal,

Deskripsi :

Museum yang mengoleksi kurang lebih 200 lukisan kontemporer karya pelukis nasional ini terletak 1 km dari musium affandi. dibuka setiap hari jm 09.00 s.d 15.00 WIB kecuali minggu jam 08.00 - 13.00 WIB

 

MUSEUM/MONUMEN PAHLAWAN PANCASILA

Alamat : kompleks 403 Kentungan Yogyakarta

Deskripsi :

Museum Monumen Pahlawan Pancasila terletak di kopleks Batalyon 403 Kentungan Sleman (dahulu Batalyon L) di tepi sebelah selatan. Di tempat ini pada tahun 1965 telah terjadi peristiwa pembunuhan terhadap dua orang pahlawan revolusi yaitu Brigadir Jenderal Anumerta Katamso dan Kolonel Anumerta Sugiyono. Tujuan didirikannya Museum Monumen Pahlawan Pancasila Kentungan untuk mengenang terjadinya peristiwa pembunuhan terhadap dua orang pahlawan revolusi dan dapat dijadikan sarana efektif dalam memberikan informasi yang mudah dihayati oleh semua pihak tentang bukti-bukti sejarah kekejaman G30S/PKI tahun 1965 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum ini diresmikan pada tanggal 1 Oktober 1991 oleh KGPAA Paku Alam VII selaku Gubernur DIY.

Bangunan Monumen Pahlawan Pancasila bercorak arsitektur rumah tradisional Jawa (joglo). Di halaman bagian dalam terdapat dua patung pahlawan revolusi Kolonel Infanteri Katamso ketika menjabat sebagai Danrem 072/ Pamungkas dan patung pada sisi barat merupakan penggambaran Letnan Kolonel Infanteri Sugiyono ketika menjabat Kasrem 072/ Pamungkas. Di dalam bangunan ini terdapat lubang tempat dikuburnya dua jenasah pahlawan revolusi tersebut. Di sebelah selatan lubang terdapat patung Garuda Pancasila yang diletakkan di atas selasar menghadap ke utara yang merupakan lambang perjuangan.

Koleksi Museum Monumen Pahlawan Pancasila berupa benda-benda realita dan peralatan-peralatan yang berkenaan dengan peristiwa penculikan kedua pahlawan revolusi. Koleksi yang menjadi unggulan adalah dua buah panser replika kendaraan angkutan pada waktu pemakaman jenasah dua orang pahlawan revolusi ke Taman Makam Pahlawan Kusumanegara. Koleksi unggulan lainnya berupa mobil Gaz yang dipakai untuk menculik kedua pahlawan tersebut.

 

MUSEUM AFFANDI

Alamat : Tepi sungai Gajah wong, Jl.Adi Sucipto 1

Deskripsi :

Museum ini mengoleksi lukisan karya Almarhun Affandi yang merupakan salah satu pelukis yogyakarta yang telah mendunia.Terletak di tepi sungai gajah Wong. Musium ini dibula setiap hari jam 09,00 - 13,00 WIB

 

 

MUSEUM GEOTHERMAL UPN

Alamat : Jl. Babarsari 2 Tambakbayan, Yogyakarta

Deskripsi :

Museum ini khusus menampilkan benda yang berhubungan dengan ilmu geologi. Museum Geoteknologi Mineral merupakan museum khusus tentang pengetahuan kebumian yang meliputi bidang geologi pertambangan dan perminyakan di Yogyakarta.

 

MUSEUM DIRGANTARA MANDALA

Alamat : Kompleks Lanud Adi Sucipto.

Deskripsi :

Museum ini terletak di ujung utara Kabupaten Bantul perbatasan dengan Kabupaten Sleman tepatnya di komplek Pangkalan Udara TNI-AU Adisucipto Yogyakarta. Museum ini banyak menampilkan sejarah kedirgantaraan bangsa Indonesia serta sejarah perkembangan angkatan udara RI pada khususnya. Selain itu terdapat diorama juga terdapat bermacam-macam jenis pesawat yang dipergunakan pada masa perjuangan. Beberapa model dari pesawat tersebut adalah milik tentara jepang yang digunakan oleh angkatan udara Indonesia.

Keberadaan Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala berdasarkan atas gagasan dari Pimpinan TNI AU untuk mengabadikan dan mendokumentasikan segala kegiatan dan peristiwa bersejarah di lingkungan TNI AU. Hal tersebut telah lama dituangkan dalam Keputusan Menteri/ Panglima Angkatan Udara No. 491, tanggal 6 Agustus 1960 tentang Dokumen dan Museum Angkatan Udara. Setelah mengalami proses yang lama, pada tanggal 21 April 1967, gagasan itu dapat diwujudkan dan organisasinya berada di bawah Pembinaan Asisten Direktorat Budaya dan Sejarah Menteri Panglima Angkatan Udara di Jakarta. Berdasarkan Instruksi Menteri/ Panglima Angkatan Udara Nomor 2 tahun 1967, tanggal 30 Juli 1967 tentang peningkatan kegiatan bidang sejarah, budaya, dan museum , maka Museum Angkatan Udara mulai berkembang dengan pesat.

Berkat perhatian yang besar, baik dari Panglima Angkatan Udara maupun Panglima Komando Wilayah Udara V (Pang Kowilu V), pada tanggal 4 April 1969 Museum Pusat TNI AU yang berlokasi di Markas Komando Udara V, di Jalan Tanah Abang Bukit Jakarta, diresmikan oleh Panglima Angkatan Udara Laksamana Roesmin Noerjadin. Berdasarkan berbagai pertimbangan bahwa kota Yogyakarta pada periode 1945-1949 mempunyai peranan penting dalam sejarah, yaitu tempat lahirnya TNI AU dan pusat kegiatan TNI AU, serta merupakan kawah Candradimuka bagi Kadet Penerbang/ Taruna Akademi Angkatan Udara. Berdasarkan Keputusan Kepala Staf TNI AU Nomor Kep/11/IV/1978, museum yang semula berkedudukan di Jakarta, kemudian dipindahkan ke Yogyakarta. Selanjutnya, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf TNI AU Nomor Skep/04/IV/1978 tanggal 17 April 1978, museum yang berlokasi di Kampus Akabri Bagian Udara itu ditetapkan oleh Marsekal TNI Ashadi Tjahyadi menjadi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, pada tanggal 29 Juli 1978 yang bertepatan dengan peringatan Hari Bhakti TNI AU.

Perkembangan selanjutnya, museum itu tidak dapat menampung lagi koleksi alutsista yang ada karena lokasinya yang sukar dijangkau oleh umum dan kendaraan. Oleh karena itu, Pimpinan TNI AU memutuskan untuk memindahkannya ke gedung bekas pabrik gula di Wonocatur Lanud Adisucipto. Sebelum pemindahan dilakukan gedung itu direhabilitasi untuk dijadikan Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala. Pada tanggal 17 Desember 1982, Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Ashadi Tjahjadi menandatangani prasasti sebagai bukti dimulainya rehabilitasi gedung itu. Penggunaan dan pembangunan kembali gedung bekas pabrik gula itu diperkuat dengan Surat Perintah Kepala Staf TNI AU Nomor Sprin/05/IV/1984, tanggal 11 April 1984. Dalam rangka memperingati Hari Bhakti TNI AU, tanggal 29 Juli 1984, Kepala Staf TNI AU Marsekal TNI Sukardi meresmikan gedung yang sudah direhabilitasi itu sebagai gedung Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala.

Lokasi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala itu berada di Pangkalan Udara Adisucipto, di bawah Sub Dinas Sejarah, Dinas Perawatan Personel TNI AU, Jakarta. Bangunan, Gedung Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala yang ditempati sekarang adalah bekas pabrik gula Wonocatur pada zaman Belanda, sedangkan pada zaman Jepang digunakan untuk gudang senjata dan hanggar pesawat terbang. Koleksi, Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala memamerkan benda-benda koleksi sejarah, antara lain : koleksi peninggalan para pahlawan udara, diorama, pesawat miniatur, pesawat terbang dari negara-negara Blok Barat dan Timur, senjata api, senjata tajam, mesin pesawat, radar, bom atau roket, parasut dan patung-patung tokoh TNI Angkatan Udara

 

MUSEUM SASMITALOKA SUDIRMAN

Alamat : jl. bintaran wetan 3

Deskripsi :

Kisah peruangan heroik Panglima besar sudirman dapat kita saksikan saat ini melalui Sasmitaloka Sudirman di Jl Bintaran No 3, Yogyakarta. Bangunan ini dahulunya merupakan kediaman Pak Sudirman dan Afifah istrinya beserta tujuh orang putranya. Sebelum di Tinggali pak dirman Sasmitaloka yang berarti rumah untuk mengenang ini adalah rumah pejabat tinggi keuangan puro pakualaman. Yang kemudian pada masa pemerintahan jepang gedung ini dikosongkan dan dimasa pasca kemerdekaan berturut-turut gedung ini dipergunakan sebagai Markas Kompi Tukul dari batalyon Suharto, dan ditinggali pak Dirman mulai 18 Desembar 1949. Semasa Agresi militer Belanda II gedung ini dikuasai dan dijadikan markasnya. Namun setelah Belanda Pergi gedung ini dijadikan Markas Komando Militer Yogya serta Asrama Resimen Infantri XIII dan penderita cacat. Dan baru pada tanggal 17 Juni 1968 dibangun menjadi Museum Angkatan darat dan pada tangal 30 Agustus 1982 hingga saati ini dijadikan Sasmitaloka Soedirman. Sasmitaloka terbagi atas Gedung Induk yang berisi benda-benda koleksi Pak Dirman beserta keluarga semasa tinggal di tempat ini. Selain itu terdapat gedung yang dibangun di sebelah kanan belakang dan kiri bangunan yang mengkoleksi benda-benda semasa menjadi Panglima besar dan bergerilia dari satu tempat ketempat lain. Semasa tersebut disebut periode Wiro Leno atau kesatria yang melakukan pengembaraan.. Dalam Sasmitaloka ada 13 ruangan yang menceritakan expresi hidup pak Dirman kesehariannya . Di ruang pertama diceritakan keadaan ruang tamu keluarga ini. Ruang II, yang disebut ruang santai merupakan tempat pak Dirman untuk membina dan mengasuh putra-putranya, meski tak jarang juga digunakan untuk menerima tamu. Dalam ruang ini terpampang foto pak Dirman beserta keluarga . Di ruang III digunakan sebagai ruang kerja dilengkapi dengan telpon , meja kerja dan lemari arsip. Ruang IV dan merupakan ruang tidur tamu yang mencorakkan kesederhanaan hidup Pak Dirman, dimana ini tidak berbeda dengan ruang tidur putra putrinya. Ruang V merupakan ruang tidurnya yang juga melambangkan kesederhanaan dan kebersahajaannya. Dalam ruang ini terdapat sebuah dipan yang digunakan untuk Sholat pak Dirman. Sebagai panglima, Pak dirman mendapat seorang sekretaris yang dijabat Letkol Isdiman,dan diberi sebuah ruang sekretariat yaitu ruang VII , disinilah disimpan semua benda yang berkaitan dengan Kepanglimabesaran Pak Dirman, dan ruang VIII menceritakan tentang pertempuran di Ambarawa. Kemudian ruang IX, menceritakan tentang keadaaan Pak Dirman setelah Operasi Paru-paru di Panti Rapih. Di sini ditunjukan Kursi roda, tempat tidur, meja dan kursi serta perlengkapannya selama di rumah sakit. Selain itu terdapat puisi-puisi yang ia gubah selama berjuang melawan sakit. Jejak selama Pak Dirman bergerilia, diperagakan pada ruang X, misalnya sebuah andong, yang pernah dipergunakan untuk perjalanan gerilya Yogya-Kediri. Ada pula sebuah mobil buatan Amerika yang mengantar Pak Dirman kembali Ke Yogyakarta (dari prambanan). Lalu peralatan hidup semasa tinggal di desa Sobo, Pancitan, Jawa Timur, seperti alat makan, tempat tidur kayu, meja dan kursi panjang, Padasan (tempat air wudu) di perlihatkan di ruang XI. Sedangkan balai-balai yang pernah digunakannya di Piungan, seperangkat kursi dan meja yang pernah di pergunakan oleh Sri Sultan Hamengku Buono semasa menjemput Panglima Sudirman di perlihatkan di ruang XII. Ruang XIII merupakan ruang terahir yang menceritakan pak Dirman dalam foto sejak menjabat sebagai panglima besar, bergerilya hinga hari wafatnya.

 

DEWANTARA KIRTI GRIYA

Alamat : Jl. Tamansiswa No. 31 Yogyakarta

Deskripsi :

Ki Hadjar Dewantara sekeluarga bertempat tinggal di rumah Jl. Tamansiswa (dulu Gevangenis Laan) 31 Yogyakarta. Tempat tersebut di huni bersaman waktu dengan diresmikannya Pendapa Agung Tamansiswa.

Bangunan didirikan pada tahun 1925 dengan gaya Eropa dikombinasikan arsitektur Daerah Jawa. Konstruksi bangunan kokoh karena bahan yang dipergunakan memiliki kualitas tinggi. Kayu jati tembok berukuran satu batu bata merah, tegel yang indah lagi kuat merupakan unsur-unsur kekokohan bangunan. Rumah dan halaman dicatat dalam buku Register Keraton Ngayogyakarta, tertanggal 26 Mei 1926, nomor angka 1383/IH.

Dewantara Kirti Griya adalah rumah bekas kediaman Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional pendiri lembaga pendidikan Taman Siswa. Dalam konsep pendidikan beliau, lingkungan sekolah harus memilih suasana kekeluargaan dan oleh karenanya beliau menghendaki untuk bertempat tinggal di dalan lingkungan perguruan yang didirikannya. Suasana kekeluargaan yangn hangat ini hingga kini masih terasa dan dapat dihayati oleh para pengunjung kompleks ini. System pendidikan Nasional Taman Siswa menggunakan pendekatan budaya dan oleh karenanya tidaklah mengherankan bilamana dalam kompleks ini terdapat pendopo yang indah, yang dipergunakan untuk kegiatan latihan tari dan karawitan para siswa.

 

MUSEUM BATIK

Alamat : Jl. Dr. Sutomo 14 A Yogyakarta

Deskripsi :

Berdiri sejak 12 Mei 1979, Museum Batik Yogyakarta merupakan salah satu museum batik yang mempunyai koleksi terlengkap dari berbagai daerah, Jogja, Solo, hingga Pesisir. Mulai koleksi batik yang berumur sangat tua sampai batik yang pembuatannya diolah secara modern. Beberapa koleksinya adalah Kain Panjang Soga Jawa (1950-1960), Kain Panjang Soga Ergan Lama (th tidak tercatat). Sarung Isen-isen Antik (1880-1890), Sarung Isen-isen Antik (kelengan) (1880-1890) dan Sarung Panjang Soga Jawa (1920-1930). Ada yang unik, semua koleksi yang ada dalam museum ini merupakan koleksi yang dimiliki oleh keluarga pendiri Museum Batik Yogyakarta. Walau museum ini memang hampir seluruh koleksinya di dominasi oleh koleksi batik, namun ternyata Museum Batik Yogyakarta juga menyimpan koleksi lain yang tak kalah menarik. Koleksi lain itu adalah sulaman. Biasanya sulaman itu bergambar pahlawan nasional serta pahlawan internasional.

Meski koleksinya tak sebanyak koleksi batik, koleksi sulaman tetap menarik juga untuk diamati. Di Museum Batik Yogyakarta, ada penawaran menarik lainnya bagi pengunjung. Mereka yang ingin belajar membatik bisa mewujudkan keinginannya itu. Pihak museum menyediakan jasa untuk kursus membatik. Per paket dikenai biaya Rp 250.000,- untuk 5 kali pertemuan. Sedangkan untuk per jamnya dikenakan biaya Rp 25.000,-. Enaknya lagi, jadwal kursus bisa disesuaikan oleh keinginan pengunjung, asal menurut jam kerja dari museum ini. Selain itu, bagi pengunjung yang ingin tertarik untuk memiliki beberapa koleksi yang ada di museum ini. Disediakan pula beberapa koleksi yang siap dibawa pulang. Untuk melihat keselurahan koleksi, pengunjung dikenakan tarif sebesar Rp 15.000,-. Bagi para wisatawan yang akan berkunjung ke Jogja, atau masyarakat Jogja sendiri, museum ini bisa menjadi alternatif untuk berlibur.

 

MUSEUM ULLEN SENTANU

Alamat : Kaliurang, Hargobinangun, Pakem, Sleman

Deskripsi :

Museum Ullen Sentalu diambil dari Ullen Sentalu yang merupakan sebuah akronim dari "Ulating Blencong Sejatine Tataning Lumaku" yang berarti Nyala pelita sebagai Petunjuk Manusia dalam Melangkah Meniti Kehidupan. Filosofi ini diambil dari lampu minyak yang dipergunakan dalam pertunjukkan wayang kulit, yaitu blencong. Blencong ini merupakan cahaya yang selau bergerak dalam pertunjukan wayang, diibaratkan sebagai mentari yang menyinari jagat raya, dan manusia harus bergerak untuk menjalani kehidupan. Dirintis pada tahun 1994 dan baru diresmikan pada tahun 1997, bangunan Ullen Sentalu memiliki arsitektur yang indah dan berkonsep selaras dengan alam. Pendirinya keluarga Haryono yang memiliki keprihatinan pada batik kuno yang banyak diburu oleh kolektor asing.
Sambutan positif datang dari kerabat - kerabat Kraton Dinasti Mataram, bahkan mereka bersedia menjadi pelindung yayasan, antara lain : Sri Paduka Paku Alam VIII (Pengageng Pura Paku Alaman 1937 – 1998), Sunan Paku Buwono XII (Raja Kasunanan Surakarta Hadiningrat 1945 – 2004), Gusti Kanjeng Ratu Alit KGPH Poeger (Paman Sri Sultan HB X Raja Ngayogyakarta Hadiningrat 1989 – sekarang), dan GRAy Nurul Kusumawardhani (Putri Permaisuri Sri Mangkunegara VII). Mereka pun banyak menghibahkan benda-benda pribadi berupa kain batik, aksesoris, foto, naskah dan cerita-cerita tentang kehidupan di dalam Keraton.
Terbagi menjadi dua bangunan utama, Ullen sentalu mengajak pengunjung menikmati wisata museum dengan cara berbeda. Bangunan pertama, yaitu : Guwa Selo Giri (bangunan bawah tanah). Guwa Selo Giri merupakan sebuah ruangan bawah tanah yang berupa lorong panjang di bawah tanah yang memiliki arsitektur bergaya Jawa - Eropa dan mirip perpaduan sumur Gumuling Tamansari dengan gaya kastil Eropa.
Aroma bunga saat memasuki ruangan, membawa pengunjung kembali ke jaman kerajaan Jawa Klasik.
Bangunan kedua Kampung Kambang (kompleks bangunan di atas kolam air), terdiri atas bagian bangunan Bale Sekar Kedaton, Pendapa Pengantin Gaya Yogya, Ruang Batik Gaya Yogya dan Surakarta, Ruang Batik Pesisiran dan Ruang Putri Dambaan.

 

MUSEUM PERJUANGAN

Alamat : l. Kolonel Sigiono No. 24 Yogyakarta

Deskripsi :

Bagi mereka yang menyukai sejarah, terutama sejarah perjuangan bangsa Indonesia membebaskan diri dari kolonialisme, museum ini sebetulnya cukup menarik untuk dikunjungi. Dari bentuknya yang bergaya arsitektur ‘ronde tempel’ saja sudah mengundang perhatian. Bagian atap gedung museum berbentuk topi baja model Amerika dengan hiasan puncak 5 buah bambu runcing yang berdiri tegak di atas bulatan dunia. Secara simbolis, bangunan ini mengandung arti kemerdekaan yang diperoleh melalui perjuangan itu adalah untuk mencapai kehidupan adil dan makmur. Masuk ke museum yang diresmikan Sri Pakualam pada 1961 itu, kita akan melewati tangga yang berjumlah 17 buah. Sedangkan keseluruhan daun pintu berjumlah 8 buah. Ada pun jendela yang mengelilingi bangunan ini, total berjumlah 45 buah. Jika angka ini digabung akan menunjukkan hari saat dua proklamator kita, Soekarno dan Hatta membacakan teks Proklamasi. Sedangkan untuk koleksi barang-barang bersejarah, ada bermacam-macam, mulai dari relief kepala pahlawan nasional, relief peristiwa sejarah perjuangan hingga benda realia seperti foto-foto perjuangan. Ada pula cangkir milik Presiden RI I Sukarno saat berada di Rengas Dengklok.

 

MUSEUM DARMA WIRATAMA

Alamat : Jl. Jenderal Sudirman No. 75 Gondokusumo

Deskripsi :

Museum Dharma Wiratama terdapat di jalan Jenderal Sudirman 75 Yogyakarta. Museum ini milik Angkatan Darat yang lebih merekam kisah perjuangan sesudah Indonesia merdeka. Museum ini lebih banyak menyimpan dan mempertontonkan kesiagaan alat-alat perang besar jaman dahulu. selain itu juga tersimpan foto-foto pejabat Kasad RI. Semua koleksi dimuseum ini terutama yang kecil-kecil disimpan dalam almari besar didepannya diberi kaca, dan beralaskan karpet warna merah matang. Pada tahun 1950 s/d 1980 gedung ini digunakan menjadi markas komando resimen (Makorem). Barulah pada 1980 gedung ini dijadikan museum Dharma Wiratama hingga sekarang.

 

MUSEUM KERETA KERATON

Alamat : Musikanan, Kraton

Deskripsi :

Kereta-kereta milik Kraton Yogyakarta tersimpan di museum ini. Diantaranya adalah Kyai Garuda Yeksa yang biasa dipergunakan untuk acara kirab selain itu Kyai Jaladra dipakai Sultan untuk tugas keliling desa dan Kyai Kanjeng Jimat digunakan untuk Garebeg atau menjemput tamu khusus

 

MUSEUM KAYU WANAGAMA

Alamat : Desa Bunder, Kec. Playen, Gunungkidul(Jl. Jogja-Wonosari Km 30)

Deskripsi :

Terletak di kawasan hutan Wanagama, Museum Wanagama memiliki berbagai barang kuno antik dan langka dalam bermacam - macam jenis maupun ukuran. Barang - barang itu berupa peralatan dan benda - benda yang terbuat dari kayu dan sudah sangat tua umurnya.Bangunan Museum Kayu Wanagama berbentuk rumah panggung. Bahan material bangunan dari tanah hingga lantai merupakan konstruksi beton, lantai dan dinding dari bahan kayu, sedang atap dari genteng tanah. Koleksi museum antara lain : meja lurah dari Jepara, Arca Gupolo dari kayu sengon, meja dan kursi mantan Menteri Kehutanan RI Ir. Sudjarwo, gebyok kayu jati berukir khas Jepara, fosil kayu jati yang berumur ratusan tahun, serta aneka macam barang kerajinan kayu dari berbagai daerah di Indonesia.